4vEwQwn2N76CQsEE22YcimIBXTw6fR8sELEf9IPn
Bookmark

Metode Depresiasi Aset Tetap

Perusahaan wajib memilih Metode Depresiasi Aset Tetap yang digunakan untuk melakukan alokasi biaya perolehan aset atau nilai revaluasinya secara sistematis sehingga bisa mencerminkan pola penggunaan dari aset tetap. Metode depresiasi aset tetap yang dapat dipilih oleh perusahaan diantaranya metode garis lurus (Straight Line Method), metode saldo menurun (Declining Balance Method), dan metode unit aktivitas (Unit of Activities Method). Diantara ketiga metode tersebut, yang sering digunakan oleh perusahaan adalah metode garis lurus karena merupakan metode yang paling mudah. Pada kesempatan ini, tim akuntansimandiri akan menjelaskan detail dari masing-masing Metode Depresiasi Aset Tetap.




Metode Depresiasi Aset Tetap - Metode Garis Lurus

Metode Garis Lurus atau Straight Line Method adalah salah satu metode depresiasi yang sering dipakai perusahaan. Metode ini akan digunakan apabila perusahaan mengestimasi manfaat aset akan diperoleh secara merata selama masa manfaat aset tersebut. Jika tidak terdapat perubahan pada nilai revaluasi dan atau nilai residu serta faktor lainya, maka beban penyusutanya akan sama hingga akhir masa manfaat. Metode ini merupakan metode yang paling umum dan mudah untuk digunakan. Adapun formula metode depresiasi garis lurus adalah:



Metode Penyusutan = (Harga Perolehan - Nilai Residu) / Masa Manfaat



Contoh:

Pada tanggal 1 Januari 2019, PT. Gahol membeli aset tetap dengan harga perolehan Rp 120.000.000, masa manfaatnya 4 tahun, dan estimasi nilai residu Rp 10.000.000 dan disusutkan menggunakan metode garis lurus. Jurnal penyusutan yang dibuat disetiap akhir tahun adalah ? 


31 Desember

Dr. Beban Penyusutan/Depresiasi Rp 27.500.000
Cr. Akumulasi Penyusutan/Depresiasi Rp 27.500.000



Baca Juga: Kapitalisasi Biaya Pinjaman Pada Harga Perolehan Aset Tetap



Metode Depresiasi Aset Tetap - Metode Saldo Menurun

Metode Saldo menurun atau Declining Balance Method merupakan metode depresiasi yang pembebanan pada awal masa manfaat lebih besar dan selanjutnya akan terus menurun hingga akhir masa manfaat. Beban penyusutan akan dihitung menggunakan presentase penyusutan tetap terhadap nilai buku (harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan), sedangkan pada akhir masa manfaat aset nilai penyusutan akan disesuaikan sehingga nilai tercatat tidak lebih kecil dari nilai residu. Adapun formula penghitunganya adalah:



Beban penyusutan = (100% / N) x 2 x ( Harga Perolehan - Akumulasi Penyusutan)



Keterangan: N adalah masa manfaat aset





Contoh Soal:

Pada tanggal 1 Januari 2018, PT. Qoalaa membeli aset tetap dengan harga perolehan sebesar Rp 120.000.000, masa manfaat 4 tahun, estimasi nilairesidu Rp 10.000.000 dan disusutkan dengan metode saldo menurun. Beban penyusutan setiap tahun adalah sebagai berikut:



Jurnal penyusutan yang dibuat oleh perusahaan adalah:


31 Des 2018

Dr. Beban Penyusutan Rp 60.000.000
Cr. Akumulasi Penyusutan Rp 60.000.000


31 Des 2019

Dr. Beban Penyusutan Rp 60.000.000
Cr. Akumulasi Penyusutan Rp 60.000.000


31 Des 2020

Dr. Beban Penyusutan Rp 15.000.000
Cr. Akumulasi Penyusutan Rp 15.000.000


31 Des 2021

Dr. Beban Penyusutan Rp 5.000.000
Cr. Akumulasi Penyusutan Rp 5.000.000



Baca Juga: Panduan Investasi Reksadana Online Untuk Pemula



Metode Depresiasi Aset Tetap - Metode Unit Aktivitas

Metode depresiasi menggunakan dasar Unit Aktivitas atau Unit of Acitivities Method adalah metode yang pembebananya akan dihitung berdasarkan penggunaan atau hasil produksi yang diharapkan dari suatu aset. Faktor yang digunakan dapat berupa jumlah jam produksi atau jumlah unit yang dihasilkan. Adapun formula untuk menghitung beban penyusutan metode unit aktivitas ini yakni:



Beban penyusutan = (Harga Perolehan - Nilai Residu) / Jumlah Unit Aktivitas x Unit aktivita setiap periode



Contoh Soal:

Pada tanggal 1 Januari 2018, PT. Sunas membeli aset tetap dengan harga perolehan Rp 120.000.000, memiliki masa manfaat 4 tahun, estimasi nilai residu Rp 10.000.000 dan disusutkan menggunakan metode unit aktivitas. Jumlah unit yang diharapkan dapat dihasilkan pada tahun 2018, 2019, 2020, dan2021 masing-masing adalah sebesar Rp 40.000 unit, 30.000 unit, 20.000 unit, dan 10.000 unit. Maka jurnal penyusutan yang akan dicatat oleh perusahaan adalah:




31 Des 2018

Dr. Beban Penyusutan Rp 44.000.000

Cr. Beban Penyusutan Rp 44.000.000


31 Des 2019

Dr. Beban Penyusutan Rp 33.000.000

Cr. Beban Penyusutan Rp 33.000.000


31 Des 2020

Dr. Beban Penyusutan Rp 22.000.000 

Cr. Beban Penyusutan Rp 22.000.000


31 Des 2021

Dr. Beban Penyusutan Rp 11.000.000

Cr. Beban Penyusutan Rp 11.000.000


Bagaimana rekan-rekan semuanya ? Cukup mudah bukan belajar tentang metode depresiasi aset tetap ? Jika masih ada yang ingin ditanyakan atau perlu diskusi lebih lanjut, langsung saja tinggalkan komentar pada kolom dibawah ya. Selamat belajar Metode Depresiasi Aset Tetap

0

Posting Komentar